JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN KE-11
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN KE-11
Edisi 21 November – 3 Desember 2022
Jurnal refleksi dwi mingguan
ke-11 ini adalah jurnal refleksi dwi mingguan terakhir yang dituliskan oleh
Calon Guru Penggerak (CGP) angkatan 5. Sebagai penghujung jurnal refleksi, maka
hal yang dituliskan adalah pengalaman CGP secara umum, dalam mengikuti Program
Pendidikan Guru Penggerak (PPGP), baik secara pembelajaran daring (LMS) maupun
pembelajaran luring (Pendampingan Individu dan Lokakarya). Model penulisan
jurnal sama seperti sebelumnya, menggunakan model 4-F, yaitu Fact,
Feeling, Findings dan Future.
FACT
Program Pendidikan guru penggerak
(PPGP) ini merupakan terobosan terbaru untuk membuat guru sebagai seorang
pendidik menjadi lebih professional lagi. Pembelajaran berlangsung selama
kurang lebih enam bulan, dimana dalam rangkaiannya, CGP harus menyelesaikan
tiga paket modul dengan setiap paket terdiri atas tiga sampai empat bagian
modul. Setiap paket modul tersebut memiliki bagian pre-test dan tes akhir
(post-test)nya masing-masing. Selain menyelesaikan pembelajaran secara daring
melalui LMS dengan didampingi oleh fasilitator (Ibu Linda Sholeha M.Pd., yang
berasal dari Kalimantan Barat), CGP juga melaksanakan kegiatan lokakarya dan pendampingan
individu bersama Pengajar Praktik (Bapak Andi Faisal S.Pd yang berasal dari
Kabupaten Mojokerto). Jumlah lokakarya sebanyak tujuh kali, begitupun juga
dengan pendampingan individu yang dilakukan sebanyak tujuh kali. Dalam sesi
tatap muka ini banyak sekali yang dipelajari oleh CGP baik yang berasal dari
Pengajar Praktik maupun dari rekan CGP kelompok lain.
Pada paket modul satu dengan judul “Paradigma dan Visi Guru
Penggerak” diawali dengan kegiatan tes awal modul yang dilaksanakan pada
tanggal 19 Mei 2022. Modul satu ini dibagi menjadi empat bagian sub modul,
yaitu 1.1) Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara; 1.2)
Nilai dan Visi Guru Penggerak; 1.3) Visi Guru Penggerak; 1.4) Budaya Positif.
Setiap sub-modul tersebut, diselesaikan dengan alur belajar M-E-R-D-E-K-A,
yaitu M-ulai dari diri; E-ksplorasi konsep; R-uang kolaborasi; D-emonstrasi
kontekstual; E-laborasi pemahaman; K-oneksi antar materi; dan A-ksi Nyata. Guru
selaku pendidik harus mengetahui peran pentingnya dalam dunia Pendidikan.
Sebagai akhir paket modul, CGP diminta mengerjakan tes akhir, dilaksanakan pada
hari Jumat, tanggal 26 Agustus 2022.
Paket modul dua yang berjudul “Praktik Pembelajaran yang
Berpihak pada Murid” juga diawali dengan tes awal modul yang dilaksanakan
tanggal 30 Agustus 2022. Seperti halnya paket modul satu, paket modul dua ini
juga dibagi menjadi sub-sub modul, yaitu 2.1) Pembelajaran untuk Memenuhi
Kebutuhan Belajar Murid; 2.2) Pembelajaran Sosial dan Emosional; 2.3) Coaching
untuk Supervisi Akademik. Masih sama pula dengan paket modul satu, paket modul
dua juga diselesaikan dengan menggunakan alur belajar M-E-R-D-E-K-A. Pada
kesempatan belajar kali ini, CGP selaku seorang pendidik, belajar bagaimana
bisa menerima keberagaman murid. Kemudian, bagaimana pentingnya seorang
pendidik membantu mengarahkan murid untuk melakukan kontrol emosi diri. CGP
juga belajar bagaimana melaksanakan kegiatan supervisi akademik dengan
pendekatan coaching. Tes akhir paket modul dua dilaksanakan pada tanggal 07
Oktober 2022.
Paket modul 3 merupakan paket modul terakhir yang
dilaksanakan oleh CGP, memiliki judul “Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan
Sekolah”. Dalam sub-modul paket tiga inilah, CGP dibimbing tentang bagaimana
pola pikir pemimpin yang seharusnya, dengan tetap mengutamakan keberpihakan
pada murid, sikap seorang pemimpin ketika dihadapkan pada permasalah pelik, dimana
keduanya memiliki nilai benar dan benar (dilema etika), agar keputusan yang
ditetapkan merupakan hasil yang paling bijak dan tepat. Sub-modul tersebut
antara lain: 3.1) Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai
Pemimpin; 3.2) Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya; 3.3) Pengelolaan Program
yang Berdampak Positif pada Murid. Tes awal modul dilaksanakan pada hari Rabu,
tanggal 12 Oktober 2022, sedangkan tes akhir modul dilaksanakan pada hari Rabu,
tanggal 16 November 2022.
Kegiatan Lokakarya dilaksanakan sebagai bentuk kegiatan
tatap muka antara CGP dengan CGP dari kelompok lain, yang berada di Kabupaten
Mojokerto. Acara tersebut didampingi secara langsung oleh masing-masing
pengajar praktik kelompok. Dalam prosesnya, CGP melakukan kegiatan berkelompok
dan individu, baik dengan anggota kelompok (05.83-A) maupun dengan kelompok
lainnya. Proses penyampaian materi disertai dengan praktik langsung sehingga
CGP dapat lebih memahami serta memiliki gambaran untuk menerapkanya di
lapangan. Sesuai alur dan jumlahnya, CGP akan melakasanakan kegiatan lokakarya
dengan total pertemuan sebanyak tujuh kali, dimana sampai saat ini sudah
terlaksana lima kali lokakarya dan satu lokakarya orientasi. Dengan jadwal
sebagai berikut :
|
NO. |
LOKAKARYA KE- |
TANGGAL PELAKSANAAN |
LOKASI PELAKSANAAN |
|
1 |
Orientasi |
21 Mei 2022 |
Vanda Gardenia Hotel, Trawas |
|
2 |
1 |
18 Juni 2022 |
SMAN 1 Bangsal |
|
3 |
2 |
08 Oktober 2022 |
SMPN 1 Sooko |
|
4 |
3 |
30 Oktober 2022 |
SMPN 1 Sooko |
|
5 |
4 |
05 November 2022 |
SMPN 1 Sooko |
|
6 |
5 |
19 November 2022 |
SMPN 1 Sooko |
Pendampingan Individu adalah bentuk pendampingan CGP secara
langsung oleh Pengajar Praktik. Saya dengan rekan satu kelompok lainnya (Bu Lukhi
dan Bu Nur A’ini) dibimbing dan
didampingi oleh Bapak Andi Faisal S.Pd Selama melakukan pendampingan, Pak Andi
Faisal S.Pd banyak memberikan penguatan konsep serta praktik baik dilapangan.
Saya merasa, proses pendampingan terlaksana dengan menggunakan metode coaching.
Prosesnya berjalan dengan santai namun serius, beliau menggunakan Bahasa yang
santai namun sopan, karena beliau berkata ingin menjalin kemitraan, bukan
kesenioritasan. Seperti pelaksanaan lokakarya, Pendampingan Individu yang sudah
dilakukan oleh CGP adalah lima kali, dengan jadwal sebagai berikut:
|
NO. |
PENDAMPINGAN INDIVIDU KE- |
TANGGAL PELAKSANAAN |
LOKASI PELAKSANAAN |
|
1 |
1 |
16 Juni 2022 |
SMAN 1 Sooko |
|
2 |
2 |
19 Oktober 2022 |
SMAN 1 Sooko |
|
3 |
3 |
26 Oktober 2022 |
SMAN 1 Sooko |
|
4 |
4 |
30 November 2022 |
SMAN 1 Sooko |
|
5 |
5 |
16 November 2022 |
SMAN 1 Sooko |
FEELINGS
Perasaan saya setelah mengikuti
serangkaian Pendidikan guru penggerak sampai dengan akhir periode jurnal ini
ditulis (03 Desember 2022) adalah merasa senang dan bangga. Rangkaian program
Pendidikan guru penggerak ini terlaksana kurang lebih selama enam bulan, dalam
kurun waktu tersebut tentu bukan perkara gampang dan mudah. Kami para CGP harus
sangat pintar dalam membagi waktu, karena kami bukan hanya konsentrasi sebagai
calon guru penggerak saja, namun juga sebagai seorang Pendidik yang
berkewajiban menyertai proses pembelajaran bersama murid. Awalnya cukup
kesulitan, karena deadline tagihan dan pembelajaran LMS yang harus kami
lengkapi, kadangkala berbarengan dengan kebutuhan administrasi kami sebagai
guru. Di sinilah saya merasa bangga pada diri saya sendiri juga pada rekan CGP
lain, meskipun bukan perkara mudah, namun kami dapat menyelesaikannya dengan
baik sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan. Kesulitan-kesulitan tersebut
sekaligus menjadi tolok ukur latihan mental bagi kami, semoga ke depannya lebih
bisa lebih baik lagi dalam melakukan manajemen waktu dan manajemen diri.
Saya sebagai seorang pendidik
merasa senang, karena banyak sekali mendapatkan ilmu baru. Wawasan dan sudut
pandang pikir saya pun juga terbuka luas. Yang awalnya saya berpikir baku, kini
saya lebih berpikir fleksibel. Materi dalam program Pendidikan guru penggerak
ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya, serta saling berkesinambungan.
Seperti teori tentang filosofi Pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hadjar
Dewantara, dasar tersebut menguatkan pandangan saya tentang seorang peran guru
yang sesungguhnya, apa yang harus dan tidak boleh saya lakukan. Beberapa teori
juga menguatkan kompetensi saya, tentang pentingnya bagi seorang pendidik
memiliki visi sebagai pedomannya dalam bertindak, yang mana apapun kegiatannya
harus tetap menunjukkan keberpihakan guru dan sekolah pada murid.
FINDINGS
Proses pembelajaran terlaksana
dan memberi saya pengetahuan serta ilmu baru. Saya yang awalnya tidak tahu
menjadi tahu, saya yang awalnya tidak mengerti menjadi mengerti, serta yang
awalnya saya tidak bisa, menjadi bisa. Mungkin seperti itulah yang saya hadapi
dan rasakan setelah mengikuti program Pendidikan guru penggerak ini. Banyak
sekali hal baru yang saya dapatkan baik dalam bentuk teori maupun praktik.
Paket Modul satu, membuka pikiran
dan pandangan saya tentang diri murid dan guru sesungguhnya. Tentng murid bahwa
mereka bukannya kertas kosong yang dapat kita tulisi seenak kita, mereka sudah
memiliki garisan halus, yang mana tugas kita adalah membantu menebalkan garis
baiknya, agar lebih dominan. Kemudian sosok guru sebenarnya adalah sebagai
pengarah, penuntun, bukan penuntut. Guru sebagai Pendidik tidak berhak
mengharuskan murid untuk pintar dan mahir dalam pelajaran tertentu. Faktanya seluruh
anak (murid) unik dengan potensi dirinya masing-masing. Guru penggerak memiliki
peran dan nilai yang selaras dengan posisinya sebagai seorang pendidik. Peran
dan nilai tersebut membantu membentuk dan menguatkan nilai profil pelajar
Pancasila dalam diri murid. Dalam memandang sesuatu penting bagi seorang
pendidik untuk lebih fokus pada adanya kelebihan murid dan sekolah, bukan hanya
melihat kekurangan. Identifikasi kekurangan dapat memotivasi diri pendidik
untuk terus berkembang dan melangkah maju, sebaliknya jika hanya melihat
kekurangan maka tidak akan pernah berani mencoba dan mandiri. Saya juga
mendapat hal baru bahwa dalam membentuk profil pelajar Pancasila yang utuh,
sekolah bersama guru juga harus menciptakan budaya positif dilingkungan
sekolah. Berusaha melakukan yang terbaik, saling berbernah bersama untuk
perubahan yang positif.
Proses pembelajaran terlaksana
antara murid dengan guru, namun praktiknya tidak semudah itu. Saya mendapatkan
ilmu baru tentang bentuk diferensiasi yang dapat diterapkan dalam proses
pembelajaran agar seluruh murid mendapatkan haknya. Adanya diferensiasi konten,
produk dan hasil harus bisa diterapkan oleh pendidik agar proses pembelajaran
yang utuh dapat diterima oleh seluruh murid dengan latar belakang mereka
masing-masing. Pentingnya melakukan dan mengidentikasi pembelajaran sosial
emosional ternyata juga sangat penting dilakukan oleh guru. Saya menjadi tahu,
bahwa sebenarnya saya selaku pendidik tidak bisa mengendalikan atapun
mengontrol diri dan emosi murid, namun bisa mengarahkannya, karena sejatinya
yang bisa mengendalikan diri adalah dirinya sendiri. Dalam upaya membangkitkan
kesadaran diri, sama seperti memunculkan motivasi intrinsik murid, hal tersebut
dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip coaching. Bukan menyalahkan atau
memberi solusi, namun menyadarkan dan membantu menggali solusi, agar coachee
(yang di-coaching) dapat menemukan potensinya sendiri, sedangkan coach hanya
memantik dengan pertanyaan berbobot.
Seorang pemimpin bukalah
posisinya nyaman, karena sering kali mendapat situasi yang tidak harapkan.
Namun apapun itu, sudah sewajarnyalah dapat dihadapi dengan bijak. Hal baru
yang saya pelajari adalah saya menjadi tahu tentang adanya dilema etika dan
bujukan moral yang memungkinkan pemimpin untuk mengambil keputusan yang tepat.
Sebelum mengambil keputusan tentu harus membuat identifikasi terlebih dahulu
dengan memperhatikan seluruh komponen yang ada. Sebagai pemimpin pembelajaran,
Guru haruslah mampu mengambil keputusan yang dapat mengakomodir seluruh kalangan
murid, bukan semata keinginan diri. Faktor keberpihakan pada murid menjadi
point penting yang harus selalu dipikirkan dan dijadikan pedoman.
FUTURE
Secara umum menurut saya Program
Pendidikan guru penggerak ini merupakan kegiatan yang sangat positif. Meskipun
dalam pembelajarannya memerlukan perjuangan yang tidak kecil, namun hasilnya
bisa sangat saya rasakan dalam diri saya sendiri. Menurut saya akan lebih baik
lagi jika program guru penggerak ini bisa diikuti oleh seluruh guru di
Indonesia, karena perubahan akan bisa terlaksana jika seluruh pihak terkait
memiliki kesadaran dan keyakinan bersama untuk melakukannya, bukan hanya
semangat dan perjuangan dari sebagian kelompok saja.
Ke depannya saya akan berusaha
menjadi seorang pendidik yang dapat menerapkan ilmu-ilmu dari Pendidikan guru
penggerak ini dengan bijak sesuai dengan kondisi lingkungan tempat saya
mengajar. Saya juga ingin memperbaiki serta meningkatkan kompetensi saya, agar
mampu menjadi seorang Pendidikan yang mumpuni dan professional. Semoga apa yang
saya pelajari dan dapatkan dari program Pendidikan guru ini dapat bermanfaat
bagi diri saya sendiri, instansi dan tentunya bagi murid-murid saya.

Komentar
Posting Komentar
Silahkan masukkan komentar untuk pengembangan web site kami